Breaking News
Loading...
Kamis, 15 Maret 2012



Pembahasan
Potensi Pesisir Kabupaten Indramayu
Kabupaten Indramayu memiliki panjang pantai yang mencapai 114 km, memiliki
3 Pulau kecil  yang berpotensi  yaitu Pulau Biawak, Pulau Gosong dan  Pulau
Candikian. Pemerintah Kabupaten Indramayu aktif dalam membangun potensi-
potensi yang dimiliki Kabupaten Indramayu khususnya bidang perikanan dan ilmu
kelautan yang ditangani instansi terkait yaitu Dinas Perikanan  dan Kelautan
(DISKANLA) Kabupaten Indramayu.

Hingga tahun 2009, Kabupaten Indramayu telah memiliki areal tambak (Air
Payau) seluas 22.800 Ha, Kolam (Air Tawar) seluas 25.000 Ha, Mina Padi (Air
Tawar) seluas 65.000 Ha dan Budidaya di Laut seluas 6.192 Ha. Kabupaten
Indramayu juga memiliki nilai produksi potensial yang cukup besar diantaranya
Produksi Hasil Tangkapan Potensial di Laut (MSY) mencapai 49.395 Ton, Produksi
Potensial Budidaya di tambak sebesar 142.819 Ton, Produksi Potensial Budidaya di
kolam sebesar 250.000 Ton dan Produksi Potensial Mina Padi sebesar 52.000 Ton.
Potensi hasil perikanan dan laut yg sedang dikembangkan adalah budidaya rumput  
laut  Glacilaria sp  dan  Eucheuma cottonii  dengan metode tambak untuk budidaya
Glacilaria sp yang dimana Glacilaria sp dimasukkan bersamaan di kolam budidaya
ikan bandeng, kemudian metode rakit apung untuk budidaya Eucheuma cottonii, hasil
panen pertama dari budidaya  Glacilaria sp menghasilkan sekitar 5 ton, sedangkan
untuk budidaya  Eucheuma cottonii  tidak berhasil dalam panen pertamanya
dikarenakan faktor ombak yg mengakibatkan rakit apung tersebut rusak.

Potensi Sumber Daya Manusia Indramayu
Penduduk Kabupaten Indramayu pada  tahun 2007 mencapai 1.717.793 jiwa,
dengan kualitas Sumberdaya Manusia  berdasarkan Indek Pembangunan  Manusia
(IPM) Kabupaten Indramayu  tahun 2008 sebesar 68,64 ( angka  sementara )
Sumberdaya Manusia yang berusaha di bidang perikanan  dan kelautan tahun 2008
tercatat 71.538 orang, yang terdiri dari nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah hasil
perikanan, dengan rata-rata tingkat pendidikan SD sebesar 64 %, SLTP sebesar 24 %,
SLTA sebesar 11 % dan Perguruan Tinggi sebesar 1 %.

Tempat Pelelangan Ikan Karangsong Kabupaten Indramayu
Dalam upaya untuk terus meningkatkan pembangunan sektor perikanan dan
kelautan Kabupaten Indramayu membangun beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
salah satunya TPI yang terletak di Desa Karangsong. TPI ini dikelola oleh sebuah
koperasi yaitu Koperasi Mina Perikanan Laut Mina Sumitra. Status hak milik tanah
yang digunakan TPI Karangsong adalah milik pemerintah namun untuk rumah
penduduk yang berada dekat TPI Karangsong adalah status hak milik pribadi. Hingga
saat ini TPI Karangsong masih dalam tahap pembangunan sehingga kondisinya
terlihat sangat tidak rapih. 

  Fasilitas-fasilatas umum di TPI Karangsong
1.  Bangunan utama Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Pada bangunan utama ini terdapat beberapa fasilitas umum yang dapat
digunakan dalam aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), seperti:  
a)  Kamar mandi sejumlah empat kamar, satu kamar mandi dalm
kondisi rusak.
b)  Teras depan digunakan sebagai tempat lelang.
c)  Teras belakang digunakan sebagai pengemasan ikan kedalam
peti ikan.
d)  Ruang pengurus harian Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
e)  Kamera dan CCTV

2.  Bangunan unit pendukung Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Pada bangunan unit pendukung di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa
Karangsong terdapat beberapa unit, diantaranya:
a)  Unit perbekalan kapal 
b)  Unit spare part mesin kapal
c)  Unit Warung Serba Ada  (WASERBA)

3.  Tempat ibadah
Fasilitas tempat ibadah di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa
Karangsong yang ada adalah Masjid Nurul Hikmah yang lokasi nya di
belakang bangujnan utama Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Dikarenakan mayoritas pemeluk agama warga di sekitar Tempat
Pelelangan IKan (TPI) Desa Karangsong memeluk agama Islam.

4.  Pos Keamanan
Fasilitas Pos Keamanan yang terdapat di Tempat Pelelangan Ikan
(TPI) ada dua pos yng terletak di depan sisi kanan dan kiri bangunan
utama Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

5.  Tempat Parkir
Fasilitas tempat parkir Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dibangun diatas
lahan seluas 2.350 m2
  namun karena lahan yang digunakan tidak
cukup untuk menampung kendaraan yang masuk maka parkir
kendaraan banyak dialihkan ke berbagai tempat yang masih kosong.

6.  Air bersih
Air bersih sangat dibutuhkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk
membersihkan ikan dan perlengkapan peti ikan. Untuk itu Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Desa Karangsong melakukan upaya dalam
mencukupi ketersediaan air bersih Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
dengan menggunakan jasa PDAM dan membuat sumur bor di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) tersebut.

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Karangsong pun membangun alat
penyuling air sungai bekerjasama dengan Belanda dengan harapan
kedepannya bias membantu dalam menyediakan air bersih di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Desa Karangsong.

  Pengelolaan Limbah di TPI Karangsong
Hingga saat ini di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) belum tersedia tempat
khusus untuk pembuangan limbah. Biasanya limbah-limbah hasil dari
kegiatan di TPI Karangsong akan dibuang ke sungai. Namun tidak semua
limbah dibuang ke sungai karena masyarakat sekitar sebagian besar masih
memanfaatkan limbah-limbah hasil dari kegiatan di TPI Karangsong untuk
diolah kembali menjadi bahan baku pembuatan pakan ikan.

  Kebersihan di TPI Karangsong
Setiap hari kebersihan TPI terus dijaga oleh 3 orang pekerja yang khusus
untuk membersihkan TPI Karangsong setiap harinya. TPI Karangsong selalu
dibersihkan setelah kegiatan Pelelangan di TPI Karangsong berakhir sehingga
kebersihan TPI Karangsong tetap terjaga setiap harinya.

  Hasil Laut Komersial di TPI Karangsong
Hasil laut yang menjadi komoditi utama di TPI Karangsong antara lain ikan
Kakap Merah, Hiu, ikan Remang dan ikan Tongkol. Namun yang paling
dominan adalah ikan tongkol.

Dari hasil wawancara terhadap pedagang dan nelayan didapat bahwa harga
ikan melonjak naik, dan sedikit jenis ikan yang dijual maupun ditangkap,
beberapa ikan dengan harga yang tinggi yang terdapat di Tempat Pelelangan
Ikan Karangsong adalah ikan tenggiri, tongkol, kakap merah, bawal, cucut,
dengan kisaran harga Rp 10.000  –  Rp 55.000. Hal ini dikarenakan  Para
nelayan di pesisir pantai utara Kabupaten Indramayu memilih tidak melaut
yang disebabkan adanya "musim barat" yang ditandai gelombang tinggi di
sejumlah kawasan perairan yang menjadi daerah penangkapan ikan. Daerah
tangkapan ikan nelayan asal Indramayu itu diantaranya wilayah perairan
Kalimantan, Pulau Natuna, dan daerah Bangka  -  Belitung. Hal ini sesuai
dengan beberapa penyebaran ikan hasil tangkapan yaitu Ikan Tongkol 
(Scomber Australasicus) tersebar di perairan Kalimantan, Sumatera, Pantai
India, Filipina dan sebelah selatan Australia, sebelah barat Afrika Barat,
Jepang, sebelah barat Hawai dan perairan pantai Pasific – Amerika, Tenggiri
(Scomberomorus Lineolatus), berada pada habitatnya di seluruh perairan 
pantai, daerah penangkapannya di perairan pantai . Tenggiri tersebar di 
seluruh perairan Indonesia, Sumatera, Madura. Perairan Indo-Pasifik, Teluk
Benggala,  Laut Cina Selatan dan India, sedangkan untuk Kakap Merah
daerah penyebaran kakap merah hampir di seluruh Perairan Laut Jawa, mulai
dari Perairan Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Selatan Jawa,
Timur dan Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi, Kepulauan Riau (Djamal dan
Marzuki 1992).

Pengelolaan kawasan Mangrove
Tidak dipungkiri lagi bahwa peran dan kontribusi mangrove sangatlah penting
untuk menunjang hasil perikanan dan kelautan. Pemerintah Kabupaten Indramayu
bekerjasama dengan masyarakat Indramayu terus mengelola mangrove hingga saat
ini. Bahkan telah terbentuk beberapa organisasi yang peduli terhadap kondisi
mangrove di Indramayu salah satunya adalah Kelompok Pantai Lestari. Masyarakat 51

Indramayu sendiri telah sadar akan pentingnya keberadaan mangrove hal ini
ditunjukkan dengan perilaku masyarakat yang tidak menebang mangrove
sembarangan. Biasanya mereka hanya mengambil kayu dari pohon mangrove yang
telah mati bahkan masyarakat Indramayu juga mempunyai inisiatif sendiri untuk
menanam pohon mangrove.

Koordinasi antara Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu dengan
Masyarakat Pesisir Indramayu

Keberhasilan dari suatu program di daerah bukan hanya karena kemampuan
pejabat daerahnya namun juga karena masyarakatnya yang mau bersama-sama untuk
membangun daerah tersebut. Karena itu diperlukan suatu koordinasi yang baik antara
pejabat pemerintahan dan masyarakat agar program tersebut berjalan dengan baik.
Hingga saat ini koordinasi antar Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu dengan
masyarakat pesisir indramayu berjalan cukup baik. Dalam melakukan sosialisasi  
program dari Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu selalu melibatkan tokoh-
tokoh masyarakat pesisir agar seterusnya program itu disampaikan pada masyarakat
di pesisir Indramayu. Salah satu program yang mendapat apresiasi dari masyarakat
adalah pelayanan pemberitahuan Daerah Penangkapan Ikan (DPI)  melalui sms.

Masyarakat hanya perlu mengirim sms mengenai dimana DPI kepada Dinas
Perikanan dan Kelautan Indramayu. Maka masyarakat akan langsung menerima
informasi DPI di sekitar perairan Indramayu. Dinas Perikanan dan Kelautan
melaksakan program ini bekerjasama dengan Lembaga Antariksa Penerbangan
Nasional dan BMKG.

Dalam perencanaan pengelolaan pesisir terpadu di kabupaten indramayu peran
serta dinas-dinas terkait sangat, contohnya DISKANLA, Dinas Pekerjaan Umum,
DPLH, BAPPEDA dan unsure lainnya dalam pemerintahan daerah yang mendukung
rencana strategis tersebut. Dalam koordinasinya dinas – dinas terkait sejalan dengan
aturan pemerintah daerah yang tersusun dalam PERDA agar tidak terjadinya tumpang
tindih antar kebijakan. Ada, untuk tanggap darurat bencana alam tersendiri ada
bagiannya setiap kecamatan telah dibentuk tim Satlak tanggap bencana alam namun
untuk fasilitas perlu ditingkatkan kembali, mengenai alokasi dana pemerintah
kabupaten indramayu telah mencanangkan dana tersebut.

Dalam hal SDA Indramayu, pemerintah pusat dan daerah bekerja sama
meningkatkan dan menjaga SDA dengan cara antara lain : mengadakan sosialisasi,
pengadaan patroli, memfasilitasi alat tangkap ramah lingkungan, melakukan
rehabilitasi mangrove, melakukan penebaran benih ikan dan  merencanakan
pengelolaan ICM.

Dalam hal komunikasi pihak DKP dengan para Nelayan khususnya, selain
mengundang para nelayan untuk mengikuti suatu program penyuluhan juga pihak
DKP menggunakan metode pesan singkat (SMS). Metode ini digunakan dikarenakan
hampir semua nelayan di Indramayu  menggunakan handphone dalam kehidupan  
sehari-harinya. Penggunaan metode ini dengan cara mengirimkan pesan singkat
kesejumlah nelayan yang sudah dikoordinasikan terlebih dahulu untuk kemudian di
kirimkan lagi ke nelayan lain sesuai alur koordinasinya. Isi pesan singkat ini berupa
informasi kondisi cuaca seperti kecepatan angin, kecepatan arus, tinggi gelombang
dan hal lain yang berhubungan dengan kebutuhan kedua belah pihak.

Kondisi Nelayan
Kondisi nelayan di Indramayu  hingga  saat ini masih belum sejahtera. Hal ini
semakin diperparah dalam memenuhi kebutuhan hidup para nelayan dan pedagang di
Indramayu yang sudah cukup hanya menangkap ikan dan berjualan. Padahal seperti
yang diketahui hasil ikan tidak menentu tergantung cuaca. Kondisi nelayan sangat
berbanding terbalik dengan kekayaan sumber daya alam negeri kita.Sangat ironis
sekali dengan potensi yang begitu besar, saat ini masih banyak penduduk desa pantai
yang memiliki taraf hidup tergolong rendah. Kemampuan nelayan untuk memenuhi
kebutuhan dasar minimal kehidupan sehari-hari sangat terbatas. Bagi masyarakat
nelayan, diantara beberapa kebutuhan pokok kehidupan, kebutuhan yang paling
penting adalah pangan.

Beberapa Faktor – Faktor yang mempengaruhi kemiskinan Nelayan 
a.  Ketersediaan Sumber daya ikan
Ketersedian sumber daya perikanan di  Indramayu  ini  tidak dibarengi dengan
Teknologi yang baik, dan modern. 

b.  Keterbatasan Modal
Nelayan dalam memproduksi ikan memerlukan input produksi atau faktor
produksi. Adapun wujud dari input produksi berupa modal (Uang),  alat
tangkap dan peralatan melaut lainnya seperti kapal/perahu. Kebanyakan
nelayan di Indonesia modal menjadi persoalan yang sangat serius hal ini
dikarenakan nelayan memiliki keterbatasan modal. Nelayan masih
mengandalkan modal dari juragan sehingga hasil produksinya tidak bisa
dinikmati secara total oleh nelayan yang  bersangkutan. Belum lagi diperparah  
oleh posisi nelayan yang 80% masih sebagai buruh tangkap sehingga
menyebabkan hasil (pendapatan) nelayan menjadi rendah.

c.  Rendahnya Tingkat Kependidikan
Satu aspek yang (juga) menjadi akar kemiskinan nelayan adalah rendahnya
tingkat pendidikan.  Dengan demikian, keterbatasan tingkat pendidikan juga
berdampak pada pemahaman proses penangkapan dan pemanfaatan hasil
tangkapan. Banyak sekali nelayan yang mengambil jalan pintas untuk
mendapatkan hasil produksi tangkapan seperti menggunakan bom
ikan/dinamit, racun ikan atau putasium. Mereka (nelayan) tidak pernah
memikirkan dampak di masa yang akan datang bahwa ikan yang di bom atau
di putasium secara alamiah akan merusak ekosistem laut yang berakibat pada
hilangnya bibit-bibit ikan.

d.  Lemahnya Lembaga Kelautan 
Keberadaan suatu kelembagaan sangat bermanfaat bagi nelayan agar dapat
membantu pelaksanaan program pemerintah. Bentuk kelembagaan itu sendiri
antara lain koperasi unit desa Mina bahari, Himpunan Nelayan Seluruh
Indonesia (HSNI) dan beberapa kelompok nelayan lainnya. Namun pada
kenyataannya, Selama ini keberadaan kelembagaan nelayan belum
sepenuhnya berjalan secara baik dan belum mampu menjadi wakil dari
nelayan.
  
Dari hasil wawancara yang didapat para pedagang dan nelayan TPI Karangsong
mengaku tidak pernah mendengar tentang pengelolaan pesisir terpadu dari pemda.
Mereka hanya diberikan informasi mengenai program untuk tidak menggunakan alat
tangkap yang  tidak ramah lingkungan,  dan mendapatkan program ganti rugi akibat
tumpahan minyak yang mengenai mangrove tetapi hanya untuk nelayan kecil dan
dana tersebut baru cair setelah 2 tahun kejadian.  Sangat disayangkan Pemerintah
Daerah Indramayu kurang memperhatikan dan memberikan solusi yang tepat bagi  
para nelayan/ pedagang di TPI Karangsong Indramayu, hal ini merupakan salah satu 
faktor taraf hidup nelayan / pedagang masih dalam angka yang sangat kecil.

Pemberian bantuan modal merupakan langkah kongrit yang harus dilakukan oleh
pemerintah diantaranya adalah bantuan unit penangkapan kepada nelayan yang
merupakan langkah yang secara langsung akan dapat meningkatkan pendapatan
nelayan. Dengan adanya bantuan unit penangkapan maka pendapatan nelayan tidak
lagi tergantung pada bagi hasil yang diperoleh dari pemilik unit penangkapan, tapi
langsung dari besarnya nilai penjualan hasil tangkapan yang diperolehnya (Marwoto
2004).

Harapan pedagang  di TPI Karangsong Indramayu  ialah  perbaikan sarana,
misalnya pengolahan limbah hasil perikanan lebih diatur kembali. Para pedagang di
TPI Karangsong ini lebih menyukai kondisi TPI sebelum diperbaharui seperti
sekarang, karena kondisi sekarang menyulitkan pedagang TPI Karangsong dalam
melakukan aktivitas.

Kondisi Pantai Tirtamaya
Pantai Tirtamaya di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu termasuk
salah satu obyek wisata yang relatif lebih dikenal masyarakat luas, dibandingkan
obyek wisata pantai lainnya yang ada di Indramayu.  Tetapi keadaan umum pantai
Tirtamaya ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan kondisi pantai yang sudah
banyak tercemar baik akibat dari limbah manusia, wisata maupun dari kondisi alam
yang lama kelamaan terjadinya abrasi pantai di Tirtamaya ini. Menurut warga sekitar
abrasi ini terjadi salah satunya akibat dari pembangunan proyek UP VI Balongan PT.
Pertamina, pada saat pembangunan proyek ini pada tahun 80-an untuk pondasi dasar
menggunakan batuan koral dan pasir dari Pulau Gosong yang dikeruk kemudian
disedot dan dijadikan pondasi dasar pada proyek tersebut.

Pada tahun 1985 kondisi Pantai Tirtamaya jauh sekali dengan kondisi yg
sekarang. Dulu pantai Tirtamaya sangat bagus, banyak pengunjung dari luar kota
bahkan artis-artis ibu kota sering sekali berwisata di Pantai Tirtamaya,istirahat
menikmati pemandangan Tirtamaya yang masih bagus . hingga pedagang Arab Pun
banyak yang singgah di pantai Tirtamaya sekedar ber Namun pada tahun 1999 Pantai
Tirtamaya menjadi rusak diakibatkan Diurug saat akan di bangun Balongan, sehingga
pengurugan tersebut mengakibatkan abrasi pantai hingga saat ini.

Minimnya fasilitas di tempat Wisata Pantai Tirtamaya ini adalah salah satu
kendala untuk memajukan tempat wisata ini pembangunan serta penataan yang
kurang baik juga salah satu menjadi pendukung menurunnya pengunjung disamping
dari bencana abrasi.  

Adanya  kegiatan wisata bahari haruslah menjamin   kelestarian lingkungannya
terutama yang terkait dengan sumberdaya hayati renewable maupun non renewable 
sehingga dapatmenjamin  peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut
khususnya di wilayah Pantai Tirtamaya ini.   Wilayah pesisir di    Indramayu sangat
potensial untuk di manfaatkan untuk kegiatan wisata Bahari   baik secara langsung   
maupun tidak langsung. Pengembangan wisata bahari di dasarkan kepada kondisi
lokal spesifik   dengan melibatkan masyarakat sekitarnya   akan berkelanjutan.

Perencanaan dan Pengembangan wisata bahari   harus dilakukan secara terpadu 
sesuai dengan kondisi lokal spesifik,  ekologis, bentang alam, adat dan budaya yang
merupakan komponen ciptaan Allah untuk dapat dikelola, dimanfaatkan sebaik
mungkin  demi kemuliaan Pencipta dan kehidupan manusia di dunia.

Bersambung ke Pengolahan Sumber Daya Pesisir dan Laut Bagian Tujuh

0 comments:

Poskan Komentar